Naskah Drama Tema Sosial

SUARA SASTRA - Naskah Drama Tema Sosial. Teman - teman, pada kali ini SUARA SASTRA  akan berbagi lagi naskah drama tema sosial terbaru di tahun 2022. Naskah drama tema sosial sering kali dicari oleh para pelajar atau oleh orang - orang pegiat pentas seni teater. Nah, naskah drama ini cocok banget buat teman - teman yang sedang mencari bahan untuk pementasan atau sebagai referensi untuk tugas sekolah. Untuk lebih jelasnya, yooo langsung di cek naskah drama terbaru 2022 tema sosial.

Naskah Drama Tema Sosial
Naskah Drama Tema Sosial  ( SUARA SASTRA / PEXELS )

SEBUNGKUS KEBOHONGAN
Karya : Muni Arum Lestari 

Diatas tanah tandus terdapat reumputan kering. pohon berguguran menebar daun yang berserakan. Terlihat seorang kakek sedang duduk diatas batu pinggir jalan. Ia hendak beristirahat sejenak untuk melepas rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh menuju kota sejahtera. Ia mengambil satu bungkus nasi remas dari bundelan sarung yang dibawanya.Ia terus menatap nasi remas yang digenggammya. Ciciumnya nasi rames itu

Kakek : Bau busuk macam apa, cuih begitu menyengat. (diambil nasi rames dari gulungan barangnya) nasi remas ini sudah busuk. Tidak mungkinlah aku memakannya, kalau aku makan yang ada nanti sakit perut. (dilemparnya nasi remas itu dengan terus menatapnya) tapi sayang juga kalau aku buang begitu saja. Sudah cape aku kerja untuk mendapatkannya, sekarang aku buang begitu saja. Lebih baik akusimpan. Mungkin nanti ada anjing jalanan yang kelaparan. Biarlah nasi busuk ini menjadi makanan lejatnya. Sayang juga kalau aku kasih sama dia. Aku yang cape masa dia yang menikmatinya. Biarlah nasi ini terus membusuk dikantungku. (terliat ia meneguk ludahnya sendiri, terik matahari begitu membakar kulik keriputnya. Menengor sebelah sebrang ujung jalan) Masih jauhkah menuju kota keadilan. Rasanya aku sudah begitu lama melangkah menyusuri jalan hukum ini.

Namun tak kunjung sampai aku dikota keadila. Meski ribuan kota aku lewati dengan terus bertaya pada semua orang yang kutemui, berlari kesana kemari . sayang aku tidak menemukan jawaban pasti. Semua orang membisu. Mereka menutup mataya seaka buta, merapat erat mulut mereka seperi bisu, dan pendengaran telingan mereka seakan tuli tak berarti. Tuhan masih adakah kejujuran dimuka bumi ini (berteriak histeris). Muncul seorang laki laku muda Dibalik tong sampah yang berada dibelakag kakek. Dikenakannya jas dengan dasi rapih terlihat elegan.

Pemuda 1 : Bisakah kau diam orang tua. Jangan terus berteriak. Kau Sudah menggaggu ketenangan semua orang.
Kakek : (terkaget) Siapa kamu?
Pemuda 1 : Tak usahlah kau tau siapa aku. Yang terpenting biarkan hidupku tenang, jangan kau ubah suasana tempat ini.
Kakek : Apa yang kamu lakukan ditempat seperti ini nak?
Pemuda 1 : Tidakah kau lihat aku sedang beristirahat. Bagitu tempat ini adalah kedamaian. Tidak ada kebisingan,  kebohongan,  dan keadilan yang tak pasti. Aku nyama berada ditempat ini. Tapi teriakanmu menggaggu mimpi indahku.
Kakek : Apakah telingaku sudah tidak berpungsi, atau aku salah dengar. mungkinkah mataku sudah taklagi melihat kebenaran.
Pemuda 1 : Telingamu tidak salah mendengar dan matamu tidak salah melihat orang tua. Inilah kenyatannya. Kaulihat, jas mahal ini sungguh tiada artinya, dasi mewah ini tidak ada harganya, tas indah ini seakan sampah didalamnya. bila kau dengar seringkali kata yang keluar dari mulut semuaya adalah kebohongan. Takada kebenaran. Aku sudah lelah menjadi diriku sendiri. Tubuh ini ingin bebas dari jaji kesejahteraan, hidupnya ingin damai dengan keadilan. Bahkan Perutku ingin kosong dari makana haram. Dan dompet mungil ini seolah memimpikan kosong dari uang haram.
Kakek : Hahaha kau membuatku tertawa. ceritamu itu telah menghiburku. Hahaha kau harus tahu nak. usiaku sudah ratusan tahun, tapi selama itu aku belum menemukan kesejahteraan. Hukum dan keadilan terlalu naip bagi tanah yang tandus ini. Aku kira kesejahteraan itu bukan untuk rakyat sepertiku, nyataya tamplinan mewah sepertimu merindukan kesejahteraan itu. lucu sungguh lucu. hahaha
Seorag pemuda berseragam polisi berlari mengampiri kakek. Ia berusah mengambil gulungan yang dibawa kake.
Pemudah 2 : Baunya dari sini. Iah benar bau sedap berasal dari sini. Dimana dimana (mencari sekeliling, ia melihat gulungan milik kake disamping tong sampah)
Kakek : Heh itu barangku. hentikan, jangan kau acak acak barangku.
Pemuda 2 : Ini dia. Akhirnya aku mendapatkanya.
Kakek : Kembalikan, nasi remas itu miliku. Jaga kau ambil. Itu miliku,
Pemuda 2 : Sekarag nasi remas ini sudah menjadi miliku. (didorongnya kake hingga terjatuh) nasi ternikmat yang pernah ada. hahaha
Pemuda 1 : Heh kembalikan nasi remas itu, itu bukan hakmu.
Pemuda 2 : Siap kamu? Kau tidak lihat seragam terhormat ini. Baju yang telah menegakan keadilan. Dan jabatan yang meraih keuntungan.
Pemudan 1 : baju terhormat, jabatan tertinggi. Hahaha dan kau bilang keadilan. Katamu kau penegak keadilan, Mana keadilan yang kau sebut-sebut itu. dimana letak hukum negri ini. Lihatlah disepanjang masa, orang orag kelaparan, manusia berteriak, menjerit dan mati dengan kesejahteraan itu. Dinegri ini tak ada hukum dan keadilan. Karna keadilan haya milik mereka yang tergila gila akan harkat semata.
Pemuda 2 : Beraninya kau berbicara seperti itu, apa kamu sudah bosan hidup.
Kakek : Untuk apa hidup kalau hanya bermain telunjuk kenistaan. Untukapa hidup denga pikiran kebohongan, untuk apa hidup dalam hukum dan keadilan yang berpihak untuk para petinggi. Negri ini tak punya hukum. Karena negri ini telah tandus dari keadilan.
Pemuda 2 : Apa kakek tidak sadar kalau ucapanmu itu menentang hukum. Sekarag aku akan menunjukan hukum yang kalian cari. Tangan ku ini adalah hukum untukmu orang tua. (ditodongkan sexxxan didepan kepala kakek)
Kakek : Hahaha Ayo texxak jagan ragu ragu. Kau kira sexxxan yang kau pegang adalah hukum. ini bukan hukum tetapi ancaman, ini penindasan, semua ini bukanlah keadilan. Tetapi penipuan atas keadilan. Kau telah salah menegakan keadilan. Apakah perlu aku menunjukan keadilan. Baiklah aku akan menunjukan keadilan itu.

Seketika dari belakang pemuda 1 mexxxul kepala pemuda 2 dengan kayu sambil berteriak.

Pemudan : Inilah hukum untuk keadilan. Dan kexxxan adalah akhir penegak hukum. Hahha
Ketika pemuda 1 menikmati perbuatannya, kakek mengambil sexxxan dan mexxxbak pemuda 1
Kakek : Inilah harga yang harus kau bayar untuk kesejahteraan. Hahha (kakek mengambil nasi remasnya kembali dan beranjak pergi meninggalkan tempat kejadian)

- TAMAT -

BIODATA PENULIS
Muni Arum Lestari lahir di Bandung, 14 Mei 1995. Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar di SDN 1 Nagreg, menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama di SMPN 1 Ciamis, dan menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMK 1 Ciamis. Pada tahun 2013 studi pada Program melanjutkan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Galuh. Saat ini penulis bergiat di Komunitas Cipta Sastra Indonesia (KCSI), HIMA Prodi Diksatrasia, dan Teater Tangtu Tilu Unigal.

Nah, itulah teman - teman Naskah Drama Tema Sosial   terbaru dari SUARA SASTRA
Terimakasih
Semoga bermanfaat