Cerpen Horor ( Hantu ) Terbaru 2022

 SUARASASTRA - Sobat sekalian, pada kali ini admin akan mencoba berbagi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, apa itu ? Cerpen horor yang sangat menakutkan sob. Penasaran ? yuk langsung baca ya sob.

Cerpen Horor ( Hantu ) Terbaru 2022
Cerpen Horor ( Hantu ) Terbaru 2022

Hantu Kampung Tambang

Natal akan segera tiba, kemeriahannya muncul ditandai pohon Natal yang hangat di pusat kota; hijaunya silau, merahnya tulus, kebangkitan bel dan pernak-pernik lain khas negara barat yang nyaring dan kado-kado kebahagiaan untuk semua orang yang semarak.

Sementara di tengah keriuhan lain di pusat kota, Aldo, 17.30, Sakit itu terletak di atas keyboard komputer kantor yang beruangan dingin seperti kota-kota di eropa, sambil menimbang kebingungan. Natal kali ini ingin dihabiskan di rumah bibi saja seperti biasa atau mengunjungi sang kekashi terlebih dahulu. Namun seketika saja jarinya berhenti menari di atas keyboard komputer, perhatiannya teralihkan kepada ponselnya yang seketika langsung tertuju, kilatan nama sahabat kecilnya, ia mengangkat, mengangkat, menegas “kau setiap tahun janji untuk pulang ke kampung masamu, tapi” ini sudah tahun ke tiga dan aku tak kunjung mengunjungi batang hidungmu seperti apa kini” “pasti berbeda..” imbuhnya. Aldo tersenyum, ia menghangatkannya persahabatan mereka dulu. Membutanya mengingat bersama-ngingat masa kecilnya, lupa penatnya urusan korporasi besar yang ia keluhkan tiap menjelang malam. Dalam rasa hangat itu, Aldo sontak menjawab “natal besok akan aku sempatkan, aku tau aku sering ingkar perkara ini, tapi kali ini aku menepati” Aldo merasa perlu sedikit membangkang pada batas-batas dirinya, melonggarkan libur sebentar tak ada salah, pikirnya. Sang sahabat membalas “kerasukan setan mana kau, tiba-tiba saja begini” sang sahabat merasa bersalah canda rupanya, hingga merelakan waktu Aldo bersama keluarganya di kota itu. Tapi janji pula kudu ditepati, sekalipun kerasukan setan. melonggarkan libur sebentar tak ada salah, pikirnya. Sang sahabat membalas “kerasukan setan mana kau, tiba-tiba saja begini” sang sahabat merasa bersalah canda rupanya, hingga merelakan waktu Aldo bersama keluarganya di kota itu. Tapi janji pula kudu ditepati, sekalipun kerasukan setan. melonggarkan libur sebentar tak ada salah, pikirnya. Sang sahabat membalas “kerasukan setan mana kau, tiba-tiba saja begini” sang sahabat merasa bersalah canda rupanya, hingga merelakan waktu Aldo bersama keluarganya di kota itu. Tapi janji pula kudu ditepati, sekalipun kerasukan setan.

Lima belas tahun Aldo telah habiskan berada di kota besar, setelah bapak ibunya meninggal. Masa kecilnya dulu dihabiskan di sebuah kampung, bernama Sukabatu, dengan lingkungan tetangga yang asri dan keluarga yang matang. Aldo mengingat-ingat, sahabat masa kecil, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman mereka dahulu. Banyak pengalaman yang menjadikan mereka, meski tidak setiap waktu, selalu lekat dalam ingatan Aldo. “Tentu dia mengenangnya pula” gumam Aldo. Kenangan-kenangan keceriaan di pinggir telaga, dan tempat-tempat teduh lainnya.

Satu minggu kemudian, tiga hari sebelum Natal. Aldo tiba di kampung masa kecilnya, Sukabatu, melihat kanan-kiri ternyata tak hijau lagi. Pepohonan yang dulu rimbun kini ditebang oleh mesin-mesin besar bertenaga, lahan-lahan kosong tempat anak kecil bermain kini menjadi alat-alat pekerja, tak heran pikirnya. Menyusuri jalan asing yang dulu belum beraspal dibuat bertanya, kemajuan apa yang terjadi di sini, perubahan sebanyak apa di kampung masa kecilnya. Aldo berhenti di sebuah ruang kosong, berimbun semak, berserakan belukar. Latarnya kosong, hanya berupa lantai tegel yang sudah usang, sebagian retak, sebagian bolong-bolong mungkin diambil orang, pagarnya dulu biru, sekarang tak bersisa namun memanfaatkan beberapa pohon, ada yang memanfaatkannya, “ya, tanaman adalah pagar setiap kehidupan” celotehnya pelan. Ia tahu persis titik itu, rumah yang menyimpan banyak kenangan hangat, perasaan-perasaan saat itu muncul kembali. Menahannya pun percuma, ia menangis sehingga membuat sedikit melangkah ke bekas pekaranganya. Tak dinyana, dari belakang ada seseorang menyergap, beralih melilit bagian Aldo, mendorongnya hingga Aldo hampir terperosok, perasaannya bercampur, kini Aldo waspada, hampir saja Aldo berbalik arah dan bersiap meninju, namun keluar umpatan lebih dulu “anjing, kau ini ya ” dibarengi dengan sahabatnya yang bekerja pada wajah tiba-tiba. Tanpa berkata mereka berpelukan, rindu-rindu dari hari pertama mereka berpisah dulu, ketika kecil, kini terluapkan layaknya hujan sehabis musim kering yang haus dan lapar di sebuah kota. Tapi sebagaimana mestinya hujan bekerja, tanpa persiapan yang cukup, gorong-gorong yang tersumbat dan perencanaan kota yang sengkarut segera menghasilkan banjir. Aldo banjir haru.

Aldo bahagia tak hingga, pertanyaan deras datang dari sahabatnya, riuh dan secara berurutan seperti suara pengumuman kedatangan kereta api. apakah kau sudah menikah, apakah kau sudah punya anak, kerja apa kau sekarang, bagaimana kehidupanmu di sana, sekolah apa kau. Begitu menghujam Aldo, hingga ia bingung menjawab satu per satu, tapi itu tak penting, yang penting adalah ia ingin berkeliling dan berkenalan dengan keluarga kecil sahabatnya yang ia pasang sebagai profil foto di aplikasi whatsapp. “bawa aku berkeliling” pungkas Aldo “tentu saja, jalan sampai subuh besok pun aku lakukan demi kau” tegas sahabatnya.

Sahabatnya membawa Aldo ke rumahnya dulu, berkenalan dan makan-makan bersama keluarga. Sahabatnya memiliki seorang anak laki-laki berumur 7 tahun, baru saja masuk sekolah dasar, seragamnya masih baru ketika tiba dari sekolah. Aldo menyadari masa kecil dulu, bertahan seperti ini, seperti keluarga ini; anak tunggal yang disayang keluarga, dunia seperti berputar pada dirinya seorang. Sore hari tiba, seperti pada hari-hari Natal tiap tahunnya di negara tropis ini, sebentar lagi hujan, nanti nanti gerimis, pelataran depan dan sedikit tanaman yang lebat, air jatuh meluncur dari sela-sela atap rumah menuju depan teras. Aldo tetiba bertanya “tadi aku di jalan terdengar sayup orang ngomongin hantu, di sini lagi gentayangan pocong seperti masa dulu ya” mukanya terheran, penasaran “ah bukan, bukan pocong atau setan lain..

Tapi di tengah penasaran itu, istri sang sahabat berkeliling cemas, sudah jam enam petang anaknya tak pulang, satu-satunya anak di keluarga itu, tak biasanya tak pulang hingga larut seperti ini. Semua orang yang ada di rumah itu jadi panik tak karuan setelah istri sang bahaya mengumumkan kekalutannya, mereka mulai mencari, di setiap ruangan rumah itu, di pekarangan belakang, di rumah-rumah tetangga, sahabatnya berlari kebingungan ke semua kelokan kampung, tanpa payung, air badan, pikiran kalat pikirannya. Aldo berderap kebingungan, ia memanggil polisi, ia ikut keluar rumah dan berlari ke setiap sudut kampung tanpa tahu arahnya dan tak pikir akan tersesat. Semua orang telah dikumpulkan, semua anak telah ditanyai “Bagas tadi main kemana, sama kalian tidak” tak ada yang menjawab pasti, tidak ada tanda anggukan oleh semua anak di kampung itu. Semua manusia di kampung Sukabatu tak ada yang tau pasti keberadaan Bagas terakhir di mana. Malam saja lewat, pencarian tetap dilakukan setelah hujan reda, setelah ada polisi dan tim sar gabungan, setelah seluruh manusia di Sukabatu berkumpul dan semakin meningkatkan pencarian, ke setiap sudut Sukabatu, masuk ke hutan, masuk ke kantor tambang, semua ke bukit, semua nihil, tak diketemukan.

Hingga pada pecarian sampai besok, mereka bersepakat menyatakan bahwa; Bagas, telah hilang. Namun tetap harus dicari, bagaimana caranya dan dengan apapun yang harus ditempuh. Aldo mengira, ia dapat merasakan apa yang dialami keluarga tersebut, kehilangan, lepas, tak punya. Namun ia bisa, tahu ini bukan perkara kematian, semua orang masih kehilangan nasib bagaimana nasib Bagas, bagaimana keadaanya, jatuh kah, kedinginan, atau jatuh sakit pada luka. Ini nasib tak jelas, rasanya seperti ketakjelasan orang-orang yang diculik rezim, rasanya seperti mencari keadilan, Aldo berpikir, bahwa hilang merupakan keadaan yang lebih parah lagi dari mati. Duka oleh hilang tak boleh, tak pernah, dan tak akan pernah, sepenuhnya sepenuhnya dan resmi. Esok atau lusa, si hilang bisa saja muncul lagi, segar bugar, tak kurang suatu apa atau hanya tinggal nama.

Keesokan harinya setelah hilang hilang itu, seseorang menemukan Bagas. Tegopoh-gopoh ia memberitahu semua warga, berlari hingga tersandung sebelum tiba di rumah sang sahabat. “Bagas, ketemu di lubang tambang!” teriaknya, sang sahabat sedikit menduga seperti itu. Ia berlari menuju lubang yang mencenggelamkan anaknya, ketidakjelasan telah berubah menjadi berubah, namun rasanya mematikan. Tubuh Bagas diketemukan telah mengambang di lubang bekas tambang itu, kaku, pucat, lalu ada bekas jejak terpeleset di pinggir lubang maut bekas tambang itu. Aldo khawatir, istri sang sahabat setiap tiga menit pandangannya keperakan lalu gelap, begitu seterusnya. Aldo tak terpaut sangka, Kemana besok Natal datang, tapi kepedihan duka harus ditelan keluarga kecil ini, satu-satunya anak yang dibanggakan.

Aldo mendengar pembicaraan tentang hantu lagi dan saja kapan saja ia terkejut, seseorang tentu saja berkelakar “hantu-hantu ini, lubang bekas tambang yang tak ditutup ini mau sampai menelan korban terus, bajingan” semua orang menyumpah, ada anjing, ada babi, monyet dan segala macam yang terpikir, dan yang lebih pembohong. sudah beberapa tahun terakhir lubang-lubang ini memakan banyak korban, terutama anak-anak kecil. Keadaan paling rawan adalah ketika hujan, seperti yang Bagas alam waktu kemarin.

Maut di kampug ini sudah bukan tugas malaikat lagi, maut kini ada di tangan perusahaan tambang yang lalai. Sementara Aldo baru saja menyadari, hantu yang dimaksud adalah lubang bekas pertambangan yang tidak ditutup ditutup oleh tanah kembali, yang seharusnya direklamasi, pekerjaan yang harus dilakukan oleh kantor tempat ia bekerja. Kantor tambang batubara.


Nah, itulah sob cerpen yang bisa admin bagika, gimana ? serem gak ?